Back to News

be Nevicio membantu penyembuhan Covid-19
02.07.2021


TANGANI COVID-19, SETJEN WANTANNAS PAPARKAN KAJIAN OHT MENJADI FITOFARMAKA DI HADAPAN KEPALA BNPB?

Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang sangat luar biasa. Salah satu kekayaan alam Indonesia adalah keanekaragaman hayati yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai jamu/produk herbal sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Sehingga tidak heran jika banyak penelitian akademis dari pihak luar maupun dalam negeri khususnya yang terkait dengan penyakit dan obat-obatan berupa jamu dan obat herbal yang memiliki potensi anti virus, anti bakteri dan anti jamur.

Namun sayangnya, dari sebagian besar jamu atau obat herbal yang beredar hanya memiliki izin P-IRT (Produk Industri Rumah Tangga) dan sebagian kecil memiliki izin dari BPOM, itupun masih kategori Jamu ataupun Obat Herbal Terstandar (OHT). Dimana produk OHT tersebut belum bisa diresepkan oleh dokter sebagai obat medis sehingga diperlukan penelitian dan uji klinis yang komprehensif agar produk Jamu/Obat Herbal dapat diterima sebagai obat medis berkategori Fitofarmaka.

Fitofarmaka sendiri merupakan obat dari bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah melalui proses uji klinis. Dengan kekayaan alam yang luar biasa ini, sayangnya Indonesia hanya memiliki 24 fitofarmaka yang terdaftar di BPOM. Sedangkan negara yang berhasil menciptakan banyak fitofarmaka yaitu negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jerman.

Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Sesjen Wantannas) Laksdya TNI Achmad Djamaludin bersama tim melaksanakan Audiensi ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam rangka memaparkan hasil kajian akselerasi prosedur uji klinis produk jamu dan OHT menjadi kategori fitofarmaka dalam rangka penanganan krisis pandemi Covid-19, Kamis (12/8/2020).

Tim Setjen Wantannas menggandeng pakar Dr. Dr. dr. Norman Zainal, Sp.OT dari Universitas YARSI dan AKBP dr. Huntal Napoleon Simamora, Sp.BP tim Peneliti RS. Bhayangkara Polri, yang saat ini consern melakukan penelitian produk Obat OHT yang dapat dimanfaatkan sebagai obat dalam rangka penanganan pandemi Covid-19.

Dalam paparannya kepada Kepala BNPB Doni Monardo, dr. Huntal Napoleon menjelasakan bahwa alasan memilih produk Virgin Coconut Oil (VCO) untuk diteliti karena sudah terbukti mengandung asam laurat diatas 40%, asam kaprat yang berfungsi sebagai senyawa antibakteri, antivirus dan antijamur serta nilai gizi VCO mengandung suplemen dan sumber energi yang berpotensi meningkatkan daya tahan tubuh. Disampaikan dr. Huntal Napoleon, Tim peneliti RS Polri memilih VCO produksi PT Nucifera Alam Indonesia, karena memenuhi persyaratan proses pembuatan dengan menggunakan metode frozen. Tim peneliti RS Polri juga sudah melakukan langkah awal dengan memberikan produk VCO kepada pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri dan hasilnya proses pemulihan pasien lebih cepat.

“Sebagai langkah awal kita sudah melakukan uji coba kepada pasien yang isolasi mandiri dan hasilnya empat hari sudah pulih, namun untuk mengilmiahkan tetap kita perlu melaksanakan uji klinis terhadap VCO agar mendapatkan kategori Fitofarmaka,” lanjut dr. Huntal Napoleon.

Fitofarmaka memang harus uji klinis berdasarkan standar WHO dengan biayanya yang mahal dan cenderung butuh waktu yang lama.

Kepala BNPB selaku Ketua Satgas Penanganan Covid19 Letjen TNI Doni Monardo dalam tanggapannya mengapresiasi Setjen Wantannas yang telah mengangkat topik tersebut dalam suatu kajian, dan diupayakan untuk mendukung hasil kajian tersebut sampai tataran implementatif.  Selanjutnya Doni Monardo menjelaskan bahwa Satgas akan membentuk tim pakar yang bertugas mengkoordinir pengembangan vaksin dan obat agar lebih sinergis dengan pihak-pihak lain di Indonesia, termasuk obat herbal berkategori Fitofarmaka dalam penanganan pandemi Covid19.  Tugas terkait pengembangan dan penyediaan vaksin ini juga merupakan salah satu tugas yang ada dalam Perpres Nomor 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Diakhir audiensi Sesjen Wantannas dan Kepala BNPB sepakat bahwa jika uji klinis ini berhasil, maka dampak positifnya tidak hanya di bidang kesehatan, tetapi juga dapat meningkatkan perekonomian nasional, dimana Indonesia berpotensi menjadi produsen dan eksportir VCO dan produk herbal terbesar di dunia.  Hal ini akan sangat menggairahkan tidak hanya usaha farmasi, namun juga usaha agribisnis pertanian/perkebunan di Indonesia. Dengan kata lain, ini juga bagian dari Aksi Bela Negara yang implementatif.

Pejabat Setjen Wantannas yang turut dalam kunjungan kerja ini antara lain, Deputi Bidang Pengembangan Marsda TNI Dr. Sungkono, S.E., M.Si, Deputi Bidang Sistem Nasional Brigjen TNI Made Datrawan, S.IP., Analis Kebijakan Bidang Pengembangan Bela Negara Kolonel Inf Judi Paragina Firdaus M.Sc serta CEO PT Nucifera Bonaventura Muliawan.***(np)

Sumber:

https://www.wantannas.go.id/2020/08/13/tangani-covid-19-setjen-wantannas-paparkan-kajian-oht-menjadi-fitofarmaka-di-hadapan-kepala-bnpb/?

Vidio animasi:

https://www.instagram.com/tv/COM87yRHH7G/?utm_source=ig_web_copy_link??

 

Latest Events

Testimony

Ratna muwardi

ini dia hasil Testimoni produk Moisturizer kami  penggunaan yang teratur dan menjaga kulit agar tidak terlalu terkena debu akan membuat jerawat berkurang dan membuat muka tampak lebih segar

Latest Events